Latest News

Showing posts with label Pendidikan Tinggi. Show all posts
Showing posts with label Pendidikan Tinggi. Show all posts

Monday, 30 August 2010

QUOVADIS SARJANA INDONESIA?

Mencermati kiprah dan perjalanan sarjana Indonesia beberapa tahun terakhir, kita patut prihatin dan hanya dapat untuk mengelus dada. Sebab dalam tataran praksisnya, sarjana Indonesia yang seharusnya memiliki bekal teori yang sangat kuat dan kritis, sehinga sanggup untuk menjadi agen of change demi dan untuk kemajuan bangsa-negara justru jauh dari harapan. Sarjana di Indonesia justru banyak yang mengelami degradasi intelektual. Mereka tidak dapat membaca realitas sosial yang ada dihadapannya. Kenyataan semacam ini masih diperparah lagi dengan minimnya pengalaman.

Kebanyakan masyarakat Indonesia beranggapan bahwa yang namanya sarjana merupakan salah satu insan yang memiliki suatu ?kelebihan? (keistimewaan) dan patut dibanggakan. Masyarakat beranggapan bahwa para sarjana memiliki bekal teori yang sangat kuat dan kritis, sehinga sanggup untuk menjadi agen of change yang nantinya sanggup untuk dibebani sebagai genarasi penerus bangsa. Pemikiran itu sudah mendarah daging dalam benak pikiran kita sejak dahulu. Alhasil yang terjadi, kita selalu mengunggul-ngunggulkan para sarjana dibandingkan dengan mereka yang tidak mempunyai gelar sarjana. 

Padahal pada realitas yang terjadi, agaknya statemen seperti tersebut sudah tidak cocok jika dikontekskan dengan keadaan sekarang.Stereotopit yang mengatakan bahwa sarjana Indonesia pandai dalam level teoritis, dan memiliki kemampuan praktis di lapangan ternyata tidak benar. Bahkan pada realitasnya, yang terjadi di lapangan justru berkata sebaliknya dan lebih memprihatinkan. Kebanyakan dari sarjana Indonesia bahkan tidak mengenal kedua-duanya, tidak memiliki cukup teori yang layak serta tidak tanggap di wilayah praksisisnya. Dalam artian mereka para sarjana Indonesia untuk dekade sekarang ini bisa dikatakan sangat miskin terori dan juga tidak cakap untuk membaca gejolak sosial. Sehingga mereka hanya menjadi sarjana yang hanya menyandang gelar. Sungguh kenyatan yang benar-benar menyayat hati dan mencoreng nama baik bangsa.

Kenyataan semacam ini terbukti dengan banyaknya sarjana yang mengganggur di Indonesia. Argumen ini dikuatkan oleh berbagai fakta dan penelitian yang dilakukan sosiolog UGM Ari Sudjito (2008) yang menyatakan, bahwa sedikitnya sebanyak 21.000 orang lulusan S1 dan 2.663 S2 dari perguruna tinggi negeri mapupun swasta (PTN ataupun PTS) di DI Yogyakarta menganggur. Tentunya semua itu semakin memperjelas pada khalayak umum. Memang pada hakikatnya instansi pendidikan (Universitas) di Indonesia mengalami kegagalan dalam menjalankan misinya.

Menurut Agus Suwignyo (2007) sarjana lulusan Universitas di Indonesia secara umum sangat rendah, atau dengan kata lain sarjana Indonesia miskin intelektual. Sehingga secara tidak langsung menghambat perjalanan mutu pendidikan Indonesia. Penyebab minimnya intelektualitas para lulusan sarjana ini setidaknya disebabkan oleh dua hal.  Pertama, ketidaksinambungan kurikuler (Curricular Mismatch) pendidikan pra-universitas dengan pendidikan universitas. Dan yang kedua misorientasi pendidikan universitas. 

Setidaknya dua faktor inilah yang merupakan penghambat serta membuat para mahasiswa enggan untuk berekspresi, sehingga universitas hanya melahirkan mahasiaswa yang oportunis dan apatis. Oleh karena lemahnya mutu intelektualitas, maka semakin banyak pula para sarjana yang menganggur, karena kalah bersaing dengan yang berbicara tentang profit para sarjana Indonesia (output Perguruan Tinggi/PT) memang tidak akan pernah lepas dan tercerabut terhadap input dan through put (proses) yang terjadi dan dilalui di dalamnya selama mereka menempuh jenjang pendidikan. Justru kedua hal tersebutlah yang pada akhirnya akan menentukan bermutu tidaknya, serta matang mentahnya mutu kesarjanaan yang mereka sandang nantinya.

Prof. Djojodiguno pernah melakukan kritik yang pedas terkait dengan keadaan yang melanda sarjana Indonesia. Beliau mengatakan bahwa ?memang bocah Indonesia sejak bayi tidak pernah diajari untuk bertanya dan bersikap kritis, sehingga sampai sarjana sekalipun mereka tidak akan pernah memiliki rasa ingin tahu. Padahal writing tresno jalaran sosko kulino (heran itu pangkal pandai).

Demikianlah, di negara Indonesia memang sejak mulai dari rumah anak-anak sudah dilatih dan dididik hanya untuk mendengarkan dengan tenang segala perkataan tanpa harus ada komentar yang dikeluarkan sedikitpun. Komentar boleh keluar jika memang benar-benar dibutuhkan, dan itupun hanya terbatas. Anak tidak diperbolehkan berbicara semaunya. Alhasil, anak didik tidak akan pernah mempunyai nalar kritis sedikitpun, hanya menurut apa yang ia dengar.

Orientasi Praktis
Kenyataan tentang ironi sarjana Indonesia diperkuat lagi oleh pendapat Yudi Latif dalam bukunya ?Masa Lalu Yang Membunuh Masa Depan? yang mengatakan bahwa kesalahan fatal yang mungkin sering diperbuat oleh sarjana indonesia adalah ketika memasuki jenjang perguruan tinggi mereka lebih berorentasi pada sesuatu yang sifatnya praktis. Kebanyakan tujuan dari mahasiswa bukan untuk memburu ilmu ataupun mengasah pisau analisis, agar dapat membaca relitas sosial. Akan tetapi lebih mengedepankan atau untuk mengejar gelar dan ijazah sebagai legitimasi serta persyaratan ikhtiyar dalam memudahkan untuk mendapatkan pekerjaan dengan yang menggiurkan.

Orientasi untuk kearah lapangan kerja dan gelar memang bukan merupakan suatu dosa. Apalagi jika diikuti dengan prestasi yang memadai. Namun sayangnya, banyak mahasiawa Indonesia yang justru tanpa ditopang oleh pengetahuan ilmu dan pendidikan yang memadai. Yang lebih memprhatinkan lagi, kesilauan terhadap ?hantu status? ini telah banyak melahirkan mahasiswa yang oportunis. Segalanya bisa diatur, yang penting bisa mengikuti ujian, nilai bagus, tidak pernah membuat kesalahan, apalagi menyangkal kehendak dosen. Adegan-adegan seperti nitip tanda tangan, memelihara hubungan baik, skripsi aspal (asli tapi palsu), merupakan dinamika jalan pintas yang acap kali diperagakan dalam dunia kampus republik yang bertaburkan dengan ?kampus ilmiah?.

Jadi tidaklah mengherankan misalnya ketika banyak pelajar yang berbondong-bondong masuk ke fakultas sastra. Kebanyakan tujuannya bukan untuk menjadi seorang sastrawan yang mumpuni dan berkompetensi dalam bidangnya. Akan tetapi karena lebih dikedepankan egonya yang tergiur dengan tawaran dan godaan dengan memperoleh diperusahaan-perusahaan asing yang menawarkan gaji yang menggiurkan.

Pengkhianatan Intelektual
Bagaimana pun juga, jika memperbincangkan perihal mutu dan kualiatas dari sarjana indonesia memang sangat mengharukan serta memprihatinkan. Bagaimana tidak, sebab banyak sarjana Indonesia yang hanya berorientasi praktis dan belum mempunyai nilai sosial yanng tinggi. Para sarjana Indonesia kebanyakan hanya berpikir untuk cepat selesai kuliah dan mendapatkan pekerjaan yang memadai. Alhasil yang mereka pikirkan juga hanya kepentingan mereka sendidri-sendiri, tanpa memikirkan bagaimana nasib masa depan bangsa Indonesia ke depan.

Polemik tentang peranan sarjana dalam pembangunan bangsa-negara memang sudah ada sejak lama. Bahkan, dalam era Orde Baru tetap ada keluhan menyangkut pengkhianatan intelektual. Dalam artian, banyak sarjana Indonesia yang tidak peka terhadap masyarakatnya, terhadap perkembangan kesejahteraan rakyat dan pembangunan bangsa-negara. Dan sarjana semacam inilah yang telah melakukan pengkhianatan terhadap intelektual. Namun apa hendak mau dikata, nasi telah menjadi bubur. Semua itu sudah terjadi di negara Indonesia. Namun, sebenarnya kita bisa saja memperbaiki kepincangan-kepincangan yang sedang di hadapi oleh para sarjana muda Indonesia. Asalkan ada keinginan dan harapan yang kuat, pasti semua itu bisa diperbaharui. Mutu pendidikan sarjana Indonesia bisa ditingkatkan, meskipun membutuhkan waktu yang relatif lama. Sebab bagaimana pun juga sarjana Indonesia diakui atau tidak merupakan agen of change yang nantinya menentukan maju tidaknya suatu bangsa.

Sumber  : Miftahul A?la di miftahblogspotcom.blogspot.com
Penulis adalah Direktur pada Center for Politic and Law Studies (CPLS)
Fakultas Syariah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Yogyakarta.

INFO LINK PENIDIDIIKAN BAGI DOSEN

UU Dosen
http://www.depdiknas.go.id/produk_hukum/uu/uu_14_2005.pdf
PP Dosen
http://luk.staff.ugm.ac.id/atur/PP37-2009Dosen.pdf
PP Standar Nasional Pendidikan
http://www.depdiknas.go.id/produk_hukum/pp/pp_19_2005.pdf
Tunjangan Dosen
http://www.legalitas.org/incl-php/buka.php?d=2000+9&f=pp41-2009.htm
http://www.legalitas.org/incl-php/buka.php?d=2000+1&f=keppres9-2001.htm
http://www.depdiknas.go.id/produk_hukum/perpres/perpres_65_2007.pdf
http://www.depdiknas.go.id/produk_hukum/permen/permen_19_2009.pdf (Tunjangan Kehormatan Profesor)
http://www.depdiknas.go.id/produk_hukum/permen/permen_18_2008.pdf (Tunjangan Profesi Dosen )
Perpanjangan Batas Usia Pensiun Pegawai Negeri Sipil yang Menduduki Jabatan Guru Besar/Profesor dan Pengangkatan Guru Besar/Profesor Emeritus
http://www.depdiknas.go.id/content.php?content=file_perundangan&start=70&jenis=Peraturan%20Menteri&tahun=2008&show=1&show2=1

============

NIDN ( Nomor Induk Dosen Nasional )
Semua dosen baik dosen tetap, dosen honorer maupun dosen Luar Biasa WAJIB memiliki NIDN
Pengajuan NIDN Baru harus dilenkapi dengan dokumen penunjang yang lengkap:
1. scan KTP
2. SK dosen tetap
3. Surat pernyataan dosen tetap
4. Ijazah
5. SK jabatan fungsional akademik (bila sudah memiliki)

============

BEBAN KERJA DOSEN, BEBAN KERJA NORMAL DOSEN
http://www.kopertis3.or.id/html/wp-content/uploads/2010/03/pedoman-beban-kerja-2010.pdf ( Beban Kerja )
http://www.kopertis3.or.id/html/wp-content/uploads/2010/03/lampiran-beban-kerja-2010.pdf (Lampiran/Penjelasan Beban Kerja)
http://evaluasi.or.id/news/article.php?catID=10&catName=Surat+Edaran&id=40 (Beban Kerja Normal )
Pedoman beban kerja Dosen dan Evaluasi Pelaksanaan Tridharma PT bersama lampiran dan tayangan
http://www.kopertis3.or.id/html/wp-content/uploads/2010/06/prof-djoko-kustono1.rar
Oleh Prof. Dr. Ir. H. Djoko Kustono, M.Pd, Guru Besar Dekan FT Universitas Malang
Seandainya link Materi Pak Djoko tak bisa buka, melalui link ini aja :
http://www.kopertis3.or.id/html/2010/07/pelatihan-angka-kredit-dosen-dan-tenaga-administrasi-2010-revisi-1-juli-2010/

=============

PEMBINAAN KARIER JABATAN DOSEN
http://kepegawaianunand.multiply.com/journal
MATERI PENYUSUNAN RENCANA PENGEMBANGAN DOSEN PTS 2010 ? 2014
http://www.ziddu.com/download/10138030/VersiMicrosoftOffice2007.rar.html

=============

INFO BPPS
-Term Of Reference BPPS ( TOR )
http://www.dikti.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=774&Itemid=242
-Syarat-Syarat Mendaftar Sebagai Calon Penerima BPPS
http://www.dikti.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=777&Itemid=242
-Cara Pelaksanaan
http://www.dikti.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=778&Itemid=242
-Pascasarjana Penyelenggara BPPS Untuk Magister
http://www.dikti.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=780&Itemid=242
-Pascasarjana Penyelenggara BPPS Untuk Magister dan Doktor
http://www.dikti.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=779&Itemid=242
-Perguruan Tinggi Pengirim Calon Penerima BPPS
http://www.dikti.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=781&Itemid=242
-Info implementasi kebijakan BPPS 2010
http://www.ui.ac.id/id/notice/archive/4239
-SK Ditnaga no 481/D4.4/2010 tentang penetapan besaran BPPS 2010 ( Detail beasiswa BPPS yang diterima )
http://luk.staff.ugm.ac.id/atur/Dirnaga481D4-42010.pdf
-Berkas yang harus dipersiapkan
http://www.kopertis3.or.id/html/wp-content/uploads/2010/03/surat-bpps.pdf

============

STUDI LANJUT/TUGAS BELAJAR
-Studi lanjut bagi PNS Dosen dalam kaitannya dengan kenaikan jabatan, kepangkatan, sertifiksi Dosen, dan evaluasi beban kerja Dosen, oleh Trisno Zuardi,SH.,MM, Kepala Bagian
Mutasi Dosen, Biro Kepegawaian Kementerian Pendidikan Nasional
http://www.kopertis3.or.id/html/wp-content/uploads/2010/06/trisno-zuardi-studi-lanjut-bagi-pns-dosen.pdf
-Surat edaran kepala Biro Kepegawaian no 4159/A4.3/KP/2010 tanggal 27 Januari 2010 tentang Pedoman pemberian tugas belajar dan ketentuan BATAS USIA (BACA ITEM 8, USIA 37-55 TAHUN SAMPAI 2015 MASIH OK ) penerima beasiswa
http://www.dikti.go.id/tatalaksana/upload/Surat%20Edaran%20Pedoman%20Tugas%20Belajar%20bagi%20PNS.pdf
-Permendiknas no 48 tahun 2009 tentang Pedoman pemberian tugas belajar bagi pegawai negeri sipil di lingkungan Departemen Pendidikan Nasional
http://www.depdiknas.go.id/content.php?content=file_perundangan&start=20&jenis=Peraturan%20Menteri&tahun=&show=1&show2
Persiapan Studi di Luar Negeri
http://www.deplu.go.id/Pages/TipsOrIndonesiaGlanceDisplay.aspx?IDP=1&IDP2=1&Name=Topic&l=id
Prosedur pengurusan keberangkatan karyasiswa ke luar negeri
http://www.uns.ac.id/data/teksLN.pdf
Panduan pengurusan keberangkatan dosen pelajar
http://www.unika.ac.id/info/beasiswa/bab1pbln.pdf
Panduan belajar ke Perancis, Jerman, Jepang, Inggeris dan Amerika
http://www.dikti.go.id/index.php?option=com_docman&task=cat_view&gid=91&Itemid=57
Alamat PPI :
Perhimpunan Pelajar Indonesia di Dunia, total 57 (klik catatan kaki akan dapat link masing-masing)
http://id.wikipedia.org/wiki/Perhimpunan_Pelajar_Indonesia#cite_note-4

============

Gelar Akademik dan Sebutan Profesional
-Kepmendiknas no 178/U/2001 tentang GELAR DAN LULUSAN PERGURUAN TINGGI
http://dikti.go.id/old/index.php?option=com_content&task=view&id=61&Itemid=11
-Lampiran Kepmendikbud yang berisi Daftar jenis gelar akademik Sarjana, Magister dan Sebutan Profesi
http://imadesudiana.files.wordpress.com/2008/11/sk-gelar-akademik-1993.pdf

============

INFO SERDOS
-Dasar Hukum :
Permendiknas no 47 tahun 2009 ttg Sertifikasi Pendidik Untuk Dosen
http://www.depdiknas.go.id/produk_hukum/permen/permen_47_2009.pdf
-Pokok-Pokok Perubahan Serdos dan Pengawasan Kinerja Dosen
http://www.kopertis3.or.id/html/wp-content/uploads/2009/12/pengawasan-kinerja-dosen-pts-122009.ppt#256
-Inpassing pangkat dosen bukan pegawai negeri
http://matematika.brawijaya.ac.id/web/cms/index.php?option=com_docman&task=doc_download&gid=50&Itemid=76
-Penetapan Inpassing Pangkat Dosen Bukan Pegawai Negeri Sipil yang Telah Menduduki Jabatan Akademik pada Perguruan Tinggi yang diselenggarakan oleh Masyarakat dengan Pangkat Pegawai Negeri Sipil
http://www.depdiknas.go.id/produk_hukum/permen/permen_20_2008.pdf
============
-Serdos 2010 ppt
http://arisbudi.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/9549/Serdos+UI.ppt
-Mareri Serdos 2009 oleh Prof Haryoto
http://www.kopertis3.or.id/html/wp-content/uploads/2009/04/materi-serdos-prof-haryoto.pdf
Penjelasan Teknis Pengusulan Jabatan Akademik dan Angka Kredit Dosen
http://www.kopertis3.or.id/html/wp-content/uploads/2009/06/presentasi-ibu-agustina.ppt
============
-Buku Panduan Serdos
http://www.kopertis3.or.id/html/wp-content/uploads/2010/01/buku_i_serdos_2010.pdf
http://www.kopertis3.or.id/html/wp-content/uploads/2010/01/buku_2_serdos_2010.pdf
http://www.kopertis3.or.id/html/wp-content/uploads/2010/01/buku_3_serdos_2010.pdf
http://www.kopertis3.or.id/html/wp-content/uploads/2010/01/lampiranb3_2010.pdf

============

ANGKA KREDIT DOSEN
-Pedoman operasional perhitungan angka kredit dosen 2010
http://www.dikti.go.id/index2.php?option=com_docman&task=doc_view&gid=239&Itemid=57
http://www.kopertis3.or.id/html/wp-content/uploads/2009/06/pedoman-penilaian-trisno-z1.ppt#256,1
============
-Dasar Hukum :
Kepmenkowasbangpan No. 38/KEP/MK.WASPAN/8/1999 tentang jabatan fungsional Dosen dan angka kreditnya
http://hukum.unsrat.ac.id/men/kepmenkowasbangpan_99.htm
Keputusan Bersama No.61409/MPK/KP/99 dan 181 tahun 1999 tentang Petunjuk pelaksanaan jabatan fungsional Dosen dan angka kreditnya
http://www.dikti.go.id/Archive2007/skb_mendikbud_dan_ka_bakn_1999.htm
Kepmendiknas No. 36/D/O/2001 tentang Petunjuk teknis pelaksanaan penilaian angka kredit jabatan Dosen
http://www.dikti.go.id/Archive2007/kepmendiknas_36do2001.htm
=============
MATERI SOSIALISASI ANGKA KREDIT DOSEN di KOPWIL 3 tgl 1-2 Juli 2010
-Pemahaman penulisan karya ilmiah agar memenuhi kepatutan serta kaitannya dengan usulan kenaikan jenjang kepangkatan, oleh Prof. Dr. Ir. Koesmawan, M.Sc, MBA.DBA., Guru Besar Bidang Manajemen-STIE Ahmad Dahlan
http://www.kopertis3.or.id/html/wp-content/uploads/2010/06/makalah-karyailmiah-juni20103.pdf
-Penjelasan pedoman operasional penilaian angka kredit, kenaikan jabatan fungsional dosen ke Lektor Kepala dan Guru Besar, oleh Harry H.B. Mailangkay, Tim Penilai Jabatan Akademik, Kopertis Wilayah III, Jakarta
http://www.kopertis3.or.id/html/wp-content/uploads/2010/06/pedoman-operasional-penilaian-29juni-dan-1-juli-20101.pdf
-Presentasi KABAG TU dan Form JJA 2010
http://www.kopertis3.or.id/html/wp-content/uploads/2010/07/presentasi-kabag-tu-dan-form-jja-2010.rar
atau buka dari :
http://www.kopertis3.or.id/html/2010/07/pelatihan-angka-kredit-dosen-dan-tenaga-administrasi-2010-revisi-1-juli-2010/
-Penjelasan Teknis Pengusulan Jabatan Akademik dan Angka Kredit Dosen
http://www.kopertis3.or.id/html/wp-content/uploads/2009/06/presentasi-ibu-agustina.ppt

=============

Pedoman akreditasi berkala ilmiah
http://isjd.pdii.lipi.go.id/data/Pedoman-Akreditasi-Dikti.pdf (ketentuan Direktur DP2M surat no 55/D3/LL/2010 tgl 15/01/2010)
http://www.bionatura.unpad.ac.id/images/stories/PDF/permen-68-2009-rev.pdf (ketentuan Permendiknas no 68 tahun 2009 )
E-Journal Dikti
http://e-journal.dikti.go.id/site/
Panduan Penggunan E-Journal
http://dp2m.dikti.go.id/data/PanduanE-Journal.pdf
Garda Rujukan Digistal, berisi jurnal domestik, tugas akhir mahasiswa, hasil penelitian dosen
http://garuda.dikti.go.id/
E-learning Perguruan Tinggi Indonesia
http://e-learning.dikti.go.id/
Directory Open Access
Alamat situs direktori yang berisi jurnal-jurnal yang bersifat gratis
http://pustaka.ut.ac.id/website/index.php?option=com_weblinks&view=category&id=4\
0&Itemid=65
Journal Open Access
Alamat situs jurnal yang bersifat gratis untuk diunduh/download atau dibaca
http://pustaka.ut.ac.id/website/index.php?option=com_weblinks&view=category&id=4\
&Itemid=23
E-books free
http://www.hongkiat.com/blog/20-best-websites-to-download-free-e-books/
Kumpulan Tesis, Disertasi dan Jurnal Online di Internet:
http://luk.staff.ugm.ac.id/riset/
Kumpulan Buku Online di Internet:
http://luk.staff.ugm.ac.id/bk/
Cara mengacu kepustakaan dan plagiarisme:
http://luk.staff.ugm.ac.id/acu/
==================
SEMOGA BERMANFAAT UNTUK PARA SAHABAT.

===============
SHARING IS CARING, AT THE TIME YOU GIVE AT THE SAME TIME YOU GET THE HAPPINESS TOO?

???????????????????????

Sumber : Ray Holy

Sunday, 14 February 2010

KEMANDIRIAN MAHASISWA

?Think big and globally
Srart small and locally
Choose it independently
Do it now,seriously

 1. Pendahuluan
Mahasiswa merupakan potensi yang sangat penting bagi masyarakat suatu bangsa, dan akan semakin penting bila semua itu teraktualisasikan dalam kehidupan sosial masyarakat. Secara sosiologis, posisi mahasiswa menempati tempat terhormat sebagai ?Pioneer and agent of development? , paling tidak dalam persepsi masyarakat luas.
Konsekwensi dari semua itu adalah perlunya mahasiswa melakukan positioning yang tepat dan antisipatif , mengingat perubahan sosial yang sangat cepat dan hampir sulit diperkirakan (unpredictable) , karena banyaknya alternatif yang mungkin terjadi di masa depan, meskipun hukum-hukum sejarah (sunatullah fit Tarikh) dapat membantu meringankan masalah tersebut.
Namun demikian bantuan pemahaman tentang masa depan bukan jaminan ketepatan positioning, selama mahasiswa itu sendiri tidak mencoba mendefinisikan dirinya sendiri dalam konteks perubahan tersebut. Disinilah nampak perlunya kemauan, keberanian yang didasari kemampuan untuk bertindak secara bebas dan mandiri, sehingga apapun yang dilakukan selalu diperhitungkan secara cermat dan akurat, dan apapun yang terjadi akan menjadi tanggungjawab penuh setiap individu mahasiswa.

2. Kecenderungan masa depan
?Makna sesungguhnya dari penemuan bukanlah menemukan tanah baru melainkan melihat dengan sepasang mata baru (Marcel Proust) ?
Meskipun tidak mudah memastikan apa yang akan terjadi di masa depan, namun banyak para akhli telah mencoba melakukan eksplorasi masa depan, hal ini paling tidak dengan suatu harapan dapat mempersempit ketidakpastian. Al Qur?an surat A1 Hasyr ayat 18 mendorong kita untuk tnempersiapkan masa depan dengan memperhatikan masa lalu, sudah tentu dalam posisi sekarang. Ini pada dasarnya bisa dikatakan sebagai warning agar kita tidak terlena dengan masa sekarang, akan tetapi, agar manusia dalam segala tindakannya sekarang ini dibarengi dengan pemikiran reflektif bagi masa depan, dan masa depan itulah yang insya Allah akan dialami oleh mahasiswa, disinilah letak pentingnya pemahaman tentang kecenderungan masa depan.
John Naisbitt dan Patricia Aburdane dalam bukunya Megatrend 2000 menyebutkan trend-trend yang akan terjadi sebagai berikut :
? Masyarakat informasi.
? High tech/high touch
? Ekonomi dunia
? Orientasi jangka panjang
? Desentralisasi
? Bantuan diri
? Demokrasi partisipatif
? Sistem jaringan
? Selatan
? Pilihan berganda
Kecenderungan tersebut nampaknya telah ada yang kita rasakan, namun prosesnya akan terus berlanjut, meskipun hal itu bukan suatu kepastian, namun sebagai suatu ?mapping of the future? nampaknya cukup membantu dalam pembuatan keputusan tentang apa yang harus dipilih dan dilakukan sekarang agar kita tidak berposisi menentang arus atau hanyut dalam arus perubahan tanpa menjunjung tinggi kebebasan memilih yang kita miliki . Mungkin konsep kunci untuk semua kecenderungan itu adalah perubahan yang cepat akibat perkembangan teknologi yang pesat serta lingkup yang mengglobal dalam seluruh aspek kehidupan (Sosial, ekonomi, politik).

3. Kemandirian
Setiap orang punya perannya sendiri-sendiri, dengan peran itu mereka menempatkan diri, tepat atau tidak, cocok atau tidak merupakan pilihan yang terhadapnya mereka bertanggungjawab. Ini adalah suatu keharusan, apakah itu sesuai atau tidak dengan kenyataan merupakan sesuatu yang akan menjadi pengalaman individu masing-masing.
Setiap Orang (termasuk mahasiswa) punya hak, bahkan kewajiban untuk memutuskan apa yang akan dilalui dalam hidupnya sendiri, seberapa tepat pilihan yang diambil menjadi tanggungjawabnya sendiri. Dengan demikian setiap orang mempunyai kekuasaan untuk menentukan jalan hidupnya, ini berarti orang, termasuk mahasiswa adalah pemimpin (minimal bagi dirinya), dan diantara karakter pemimpin adalah sikap independensi dan responsibiliti, karena dia mandiri, maka dia bertanggungjawab atas keputusan pilihannya.
Akan tetapi secara ril diakui bahwa kemandirian tidak mudah dimiliki atau dipertahankan, sikap tersebut dipengaruhi banyak faktor , dari mulai keluarga, teman dan budaya sekitar. Dalam konteks mahasiswa, Kemandirian juga dipengaruhi oleh institusi dimana mereka belajar, Lembaga pendidikan,misalnya bisa juga menjadi belenggu bagi mahasiswa, karena lembaga pendidikan dan keguruan, maka menjadi suatu keharusan untuk menjadi Guru yang kemudian mendapat penyempitan makna menjadi Guru Negri (PNS). Menjadi PNS memang bukan suatu kesalahan, bahkan itu merupakan hak asasi setiap orang, tapi jika hal ini menutup pilihan-pilihan lain. Bisa saja dianggap suatu kekeliruan, karena kebebasan dan kemandirian memerlukan alternatif khususnya dalam penentuan pilihan, dan alternatif itu hanya bisa terlihat jika telah tumbuh pemahaman tentang apa yang sedang terjadi dan kemana masyarakat punya kecenderungan berubah.
Untuk itu disamping pemahaman tentang prediksi masa depan, kita dituntut pula untuk memiliki perangkat metode eksplorasi masa depan yang menurut Morrison ada tiga yaitu : Scenario, Forecast, dan Wildcard. Skenario merupakan pemikiran guna mengidentifikasi isu-isu kritis yang sedang dan mungkin dihadapi, Forecast merupakan proses mempersempit scenario sehingga menjadi suatu ramalan yang mungkin ingin diwujudkan , sedang wild card merupakan cara berpikir ?bagaimana seandainya?, cara ini dimaksudkan untuk membantu mengatasi ketidakpastian sekaligus juga mempertajam scenario dan forecast.
Dengan ketiga perangkat tersebut , kemandirian mendapat fondasi yang lebih kuat dan kebebasan memilih akan memperoleh ruang gerak yang makin luas, makin kuat fondasi dan makin luas ruang gerak akan mendorong mahasiswa (setiap orang) berperan secara optimal dalatn kehidupan, akibataya keberanian mendesain jalan hidup sendiri akan tumbuh tanpa terbelenggu oleh hal-hal yang dapat meredupkannya.
Untuk itu setiap individu mahasiswa perlu memposisikan diri sebagai pemimpin (terutama bagi dirinya sendiri), agar segala tindakannya merupakan pencerminan dari kemandirian dan kebebasan, serta dapat melaksanakanfungsi atau kegiatan dasarnya yang menurut Stephen Covey ada tiga yaitu : Pathfinding, Aligning, dan empowerment. Pencarian alur (jalan) dilakukan dengan penuh kebebasan, penyelarasan dilakukan dengan kemandirian, dan pemberdayaan dilakukan dengan kemauan keras, semua ini insya Allah akan makin membuka cakrawala pandang atas kehidupan, sehingga menjadi Guru (PNS) bukan satu-satunya pilihan yang harus, karena ternyata pilihan yang terbentang sangat luas seluas kehidupanitu sendiri.

4. Penutup
Kemandiriandan kebebasan pada dasarnya memerlukan situasi yang kondusif, namun demikian, kemauan dan tekad yangkuat dapat membantu meringankan belenggu-belenggu yang menekan, untuk itu yangpenting memulai langkah pertama dan memperkuat visi nntuk mendorong terjadinya proses pendefinisian din dengan cara baru, sehingga positioning dapat dilakukan dengan bertanggungjawab, setelah memahami berbagai kecenderungan serta melengkapi diri dengan kemampuan, jika hal ini terjadi, insya Allah harapan-harapan dapat benar-benar menjadikenyataan dankehidupan akan menampakan diri dengan keramahan dan bersahabat.
Sumber : http://uharsputra.wordpress.com

Sarjana dan Intelektualitas


Pendidikan merupakan sebuah proses penting dalam kehidupan manusia, karena melalui proses ini manusia dibentuk dan dilahirkan sebagai seorang manusia yang utuh dan sebenarnya.

Pendidikan semestinya bertanggungjawab terhadap proses pencerdasan bangsa dan berimplikasi kuat pada proses empowerment (pemberdayaan). Hal ini perlu ditegaskan kembali, karena tingkat mendidikan yang meningkat ternyata tidak selalu inheren dengan tingkat pemberdayaan, dan karenanya tidak inheren pula dengan tingkat kemandirian. Sebaliknya, kadang-kadang meningginya tingkat pendidikan malah berimplikasi pada makin meningkatnya ketergantungan kepada pihak-pihak lain.
Mencerdaskan kehidupan bangsa sebenarnya sudah menjadi tujuan utama bangsa kita yang termaktub dalam pembukaan UUD 45. Upaya ini ditempuh melalui pendidikan nasional.
Dalam upaya mencerdaskan bangsa pendidikan seharusnya dipandang sebagai alat perjuangan pencerahan manusia. Sebagai alat perjuangan pencerahan manusia maka minimal ada tiga aspek yang harus ada dalam sebuah proses pendidikan. Pertama, Aspek iman, yang berorientasi pada proses pembentukan keyakinan manusia akan penciptanya (spiritualitas). Kedua, Aspek kognisi, yang berorientasi pada perubahan pola pikir (intelektualitas). Ketiga, Aspek affeksi, yang berorientasi pada perubahan sikap mental dan perilaku (mentalitas).
Dengan dimilikinya minimal tiga aspek dalam wacana pendidikan kita, maka seseorang yang berpendidikan dipandang sebagai seorang yang telah mengalami peningkatan iman, ilmu dan mental. Proses ilmu adalah garis vertikal yang mengarah ke atas, proses moral adalah garis akar ke dalam jiwa, sementara proses mental adalah garis horisontal. Semakin meninggi ilmu akan semakin mendalam garis moral, serta semakin melebar garis mental. Inilah yang disebut dialektika antara ilmu, mental dan moral pada proses kepribadian seseorang.
Meningkatnya ilmu pengetahuan semestinya akan membuat yang bersangkutan semakin lapang jiwanya, semakin luas bathinnya dan semakin arif kepribadiannya. Namun ternyata tidak selalu demikian. Seseorang yang lebih tinggi kapasitas pengetahuannya belum tentu lebih bijak dan arif perilakunya. Pada kenyataannya sering kita temui seorang yang lebih tinggi kedudukannya yang notabene lebih mapan kapasitas intelektualnya, lebih tinggi strata keilmuannya menjadi lebih picik pikirannya, tidak lebih arif kebijaksanaannya dan menjadi otoriter kekuasaannya. Kita selayaknya gelisah, untuk apa kita himpun informasi dan ilmu sebanyak ini kalau ia malah meningkatkan akses kita ke kemungkinan dosa, karena yang kita ketahui itu -karena sesuatu dan lain hal- tidak bisa atau terpaksa tidak kita kerjakan.
Minimal ada dua permasalahan mendasar pendidikan kita, yaitu Pendidikan Spiritual dan Pengangguran Terdidik. Pendidikan spiritual permasalahannya adalah tidak seimbangnya antara porsi pendidikan spiritual dengan pendidikan intelektual dan mental. Akibatnya bisa kita lihat dengan semakin mengakar mendaunnya budaya korupsi, manipulasi, monopoli, oligopoli, kolusi dan segala macam kejahatan birokrasi dinegeri ini. Jika dikorelasikan dengan tingkat pendidikannya, pelaku kejahatan tersebut bukanlah orang-orang yang bodoh. Dari kualitas kejahatannya tentu pelakunya bukan orang sembarangan, pastilah orang-orang pintar, pandai dan minimal pernah mengenyam persekolahan modern.
Kenakalan remaja dan kenakalan orang tua yang semakin menjadi-jadi serta kejahatan fisik maupun moral bahkan gabungan keduanya semakin merajalela, merupakan bukti lemahnya kekuatan spiritual yang dimiliki sebagian masyarakat kita. Lemahnya kekuatan spiritual ini menjadikan masyarakat kita mudah putus asa dan cenderung menghalalkan segala cara demi kepentingan materi sesaat. Mereka tidak berpandangan jauh ke depan, dimana masa depan bukan berarti hanya masa dewasa dan masa tua tetapi menyangkut pula masa kematian dan masa pasca kematian. Dan yang cukup memprihatinkan adalah pendidikan kita belum mampu merubah sikap perilaku anak didik sesuai dengan target pendidikan yaitu mempertinggi budi pekerti dan ketaqwaan kepada Allah SWT.
Pengganguran terdidik merupakan masalah berikutnya yang cukup serius. Pengangguran ibarat hantu yang sangat menakutkan bagi masyarakat kita. Tidak peduli bagi mereka yang tidak mengenyam pendidikan ataupun bagi masyarakat yang mengenyam pendidikan tinggi. Masalah pengangguran selalu dikaitkan dengan masalah pendidikan. Dengan asumsi bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan akan semakin dewasa dan semakin mampu berfikir alternatif. Sehingga sangat menjadi sorotan dan ironis jika sang penganggur itu adalah sarjana (intelektual) dimana seharusnya ia sudah mampu berfikir alternatif. Pendidikan yang semula diharapkan mampu mengangkat status sosial tetapi malah menjadi beban dalam pergaulan sehari-hari. Bahkan tak jarang para sarjana mengalami kegamangan dalam masyarakat.
Jika dicermati lebih lanjut jumlah pengangguran semakin tahun semakin meningkat, apalagi ditengah keterpurukan ekonomi seperti saat ini. Pola ini menjadi menarik untuk dikaji, karena sarjana yang seharusnya mampu berfikir alternatif untuk menjadikan dirinya mandiri ternyata tidak demikian adanya. Ini menunjukkan sistem pendidikan kita belum mampu menjadi rahim yang melahirkan lulusan berjiwa enterpreneurship. Akibatnya mereka cenderung untuk mengandalkan lowongan pekerjaan dibandingkan dengan menciptakan lapangan kerja. Dunia pendidikan kita terjebak pada kata ?How to use?, sehingga melahirkan produk sarjana konsumtif tidak kreatif. Lembaga-lembaga pendidikan akhirnya berfungsi sebagai pabrik-pabrik penghasil tenaga kerja yang terampil dan terlatih. Kondisi ini diperparah lagi dengan penerjemahan tujuan pendidikan yang menyesatkan. Penerjemahan tujuan pendidikan secara tidak sadar selalu dibawa pada aspek / orientasi lapangan kerja, memperoleh kursi dimana, gajinya berapa, fasilitasnya apa, dan sebagainya. Dengan demikian ketika produk sarjana ini dihadapkan pada realita kesempatan kerja yang sempit mereka tidak mampu untuk berfikir alternatif memanfaatkan ilmu dan sumber daya yang ada menjadi sesuatu yang produktif.
Simpul dari tulisan ini bahwa memang tidak ada jaminan bahwa berkembangnya kepribadian seseorang menjadi sarjana akan paralel dengan perkembangan kepribadian dan tingkat moralnya. Tidak ada jaminan bahwa membengkaknya jumlah sarjana berarti semakin terawat dan eksis pula nilai kebenaran dalam kehidupan masyarakat. Jadi untuk apa melakukan pengembaraan intelektual dan pergulatan pemikiran menjadi sarjana jika membuat jarak semakin jauh dengan Al-Khalik, Sang Pencipta ?. Ironisme yang memprihatinkan.
Menjawab ironisme tersebut diperlukan langkah sistematik dan konsisten dengan melakukan reorientasi sistem pendidikan. Sistem pendidikan yang akan dikembangkan harus mampu mewadahi tiga dimensi dasar kehidupan manusia, yaitu dimensi ruhiyah (moralitas/spiritualitas/agama), dimensi fikriyah (intelektualitas) dan dimensi mental untuk dapat dimanage secara proporsional dan seimbang. Semoga dimasa yang akan datang semakin banyak dihasilkan sarjana-sarjana multidimensional, yaitu sarjana dengan kapasitas mental, moral dan intelektual. Wallahua?lam bishawab.

Tags