Latest News

Showing posts with label Curhat. Show all posts
Showing posts with label Curhat. Show all posts

Sunday, 22 August 2010

Mahasiswa Baru dan Ospek: Sebuah Langkah Awal


Huaaa, kangen rasanya bergumul dengan blog lagi. Hal yang kini mulai jarang saya lakukan semenjak menyandang titel sebagai Mahasiswa Baru Universitas Indonesia 2010 (Maba UI 2010). Bukan apa-apa, karena memang hari-hari saya kini penuh dengan aktivitas pengenalan (baca: ospek) atau di UI lebih dikenal dengan istilah OKK (Orientasi Kehidupan Kampus) di tingkat universtias dan PMB (Penerimaan Mahasiswa Baru) di tingkat FISIP. Dan tulisan ini merupakan sedikit curahan hati saya sekaligus tumpahan inspirasi yang beberapa hari ini menumpuk dalam benak saya berkat acara pengenalan di UI yang begitu luar biasa.
---------------------------------------------------------------------------
Apa yang ada di dalam pikiran anda ketika mendengar kata Ospek? Perploncoan yang tidak bemakna, tugas yang disuruh dengan niat ingin mengerjai, intimidasi fisik, atau mungkin kegiatan yang selalu memakan korban. Inilah wajah umum dari ospek yang jelas sekali menampakkan kejahiliahan. Bagaimana acara yang seharusnya berisi perangkat-perangkat untuk membahantu mahasiswa baru untuk mengenal dunia kampus, malah diisi dengan perangkat-perangkat untuk mengerjai mahasiswa baru sekaligus momen hiburan gratis untuk para senior. Alhamdulillah, saya tidak merasakannya di kampus yang baru saja saya duduki kursinya: Universitas Indonesia (UI).

Kamaba (Kegiatan Mahasiswa Baru) UI benar-benar berbeda dengan ospek kebanyakan. Panitia memberikan kami, mahasiswa baru, tugas untuk membuat essay dan proposal project yang melatih kemampuan berpikir kami, alih-alih memberikan tugas tidak jelas yang tak memiliki makna. Panitia memberi kami kesempatan untuk mendengar ?ocehan inspiratif? dari para tokoh besar, alih-alih memberi kami kesempatan untuk mempermalukan diri di depan umum. Panitia menghadirkan pada kami atmosfer kampus yang kompetitif dalam bingkai intelektual, alih-alih menghadirkan atmosfer militeristik bak di camp pasukan perang.

Hal ini membuat rasa khawatir saya tentang ospek itu perlahan luntur, bahkan kini mulai berganti dengan rasa penasaran, ?Lalu apalagi?? Saya seperti seorang anak kecil yang diberi satu permen yang rasanya enak sehingga meminta lagi ketika permen itu habis. Inilah hakikat sebenarnya dari ospek: pengenalan. Pemberitahuan garis besar dunia kampus. Ingat! Hanya garis besarnya saja. Sehingga diharapkan akan ada dua hal yang bertumbuh dalam diri mahasiswa baru lewat ospek: bekal awal dan rasa penasaran akan informasi lanjutan. Dan bersyukurlah segenap panitia Kamaba UI 2010, karena menurut saya, kalian telah cukup berhasil melaksanakan misi tersebut.

Terimakasih saya haturkan kepada segenap panitia yang telah berpikir dan berkerja keras demi kami. Mengorbakan segala sumber daya yang kalian punya. Mengerahkan segala daya usaha yang kalian bisa. Mengobarkan api tekad perjuangan dengan harapan kami pun bisa merasakannya. Sungguh, kalian begitu menginspirasi kami untuk menjadi mahasiswa UI sejati.

Inilah sebuah langkah awal bagi kami para mahasiswa baru UI 2010. Langkah yang akan terus menjadi kenangan meski sudah beribu-ribu langkah kami tinggalkan. Langkah yang akan terus menjadi pelajaran meski sudah bertahun-tahun kami tak lakukan. Langkah yang Insya Allah mampu memacu kami untuk berprestasi di masa depan.

Akan tetapi, izinkan saya selaku mahasiswa baru UI 2010 tetap menyebut acara tersebut ospek. Agar kampus lain dan Indonesia tahu bahwa ospek dalam ?Kamus Besar Ikatan Keluarga Mahasiswa UI? bukanlah perploncoan, tetapi ajang pengenalan yang menyediakan wahana bagi kami untuk melakukan langkah awal yang berkesan, bermakna, dan memiliki nilai pembelajaran.

Salam Kreatif - Kritis,
Pratama

Friday, 12 February 2010

Kreatif ? Kritis: Sebuah Sintesis Pola Pikir Pelajar


Ketika kita membicarakan masa depan bangsa. Maka pelajarlah yang mungkin akan menjadi tema utama. Karena pelajar yang juga diidentikkan dengan kaum mudalah yang nantinya akan menjadi ?gudang inovasi? dan generasi baru untuk meneruskan proyek memajukan bangsa ini. Oleh karena itu, pembenahan dan pengembangan diri bagi seorang pelajar adalah wajib. Karena, kalau bukan kita siapa lagi?

Bagian pertama yang harus kita benahi dan kembangkan adalah pola pikir. Karena dari sanalah semua ucapan dan tindakan kita bersumber. Dialah ?super komputer? yang akan menginstruksi setiap gerak dari tubuh kita. Ibarat pesawat, dialah pilotnya.

Pola pikir adalah sebuah kerangka yang nantinya akan menjadi acuan dari setiap tindak-tanduk kita. Sehingga, jangan heran, ketika ada dua anak yang bersekolah di tempat yang sama tapi memiliki tingkat kepatuhan terhadap peraturan yang berbeda. Hal ini terjadi karena keduanya memiliki pola pikir yang berbeda, bahkan bertolak belakang.

Salah satu pengategorian pola pikir yang coba saya bahas adalah kreatif dan kritis. Dua hal yang ?katanya? saling bertolak belakang. Kreativitas dikatakan akan menghambat daya kritis, sedangkan kekritisan akan menghambat daya kreasi. Mungkin hal ini ada benarnya, karena memang kedua pola pikir itu lahir dari dua bagian otak yang berbeda. Kreativitas lahir dari otak kanan yang cenderung spontan dan lompat-lompat. Sedangkan kekritisan lahir dari otak kiri yang cenderung teratur dan linear.

Sekarang pertanyaannya, bukankah kita punya kedua bagian otak tersebut? Bukankah kita ditakdirkan memang untuk memiliki keduanya? Mengapa kita harus mengeleminasi salah satunya?

Tampaknya, bukan tanpa alasan Sang Pencipta membagi otak kita ini menjadi dua bagian dengan karakter yang bertolak belakang. Tak lain dan tak bukan, agar kita mampu tetap seimbang dan proporsional. Agar tidak ada dominasi dan monopoli dari salah satunya. Agar keduanya bisa bersinergi demi satu karya. Sungguh begitu agung ciptaan-Nya.

Untuk itulah, saya berusaha untuk menghadirkan dua keyword itu (Kreatif dan Kritis) di blog saya ini dan menjadikannya satu sintesis baru pola pikir pelajar (Sehingga menjadi Kreatif ? Kritis). Meski hal ini telah sejak awal saya jadikan tagline, tapi entah mengapa perkembangan blog ini malah tidak menunjukkan ke arah sana. Hal ini mungkin dikarenakan saya pribadi yang masih perlu banyak belajar sebagai blogger remaja dan pemula. Oleh karena itu, mulai detik ini, Insya Allah saya akan mulai melakukan re-formulasi blog, agar isi blog ini bisa sinkron dengan tagline yang saya tawarkan: Kreatif ? Kritis.

Oya, satu lagi. Untuk mendukung rencana saya tersebut. Saya juga akan selalu menggunakan salam Kreatif ? Kritis di setiap akhir dari tulisan saya.

Salam Kreatif ? Kritis,
Pratama

Saturday, 6 February 2010

Poster Blog Catatan Dunia Pendidikan Indonesia


Waktu itu iseng pengen bikin poster buat blog. Yaa, bisa buat promosilah. Eh, ternyata hasilnya lumayan. Yaudah, diposting ajah. Semoga dengan adanya poster blog saya jadi semakin ramai. Amiiin. Oya, kalau ada yang mau kasih masukan tulis di kolom komentar yah.

Poster ini memiliki pesan berbentuk tiga pertanyaan utama yang dijawab dengan hadirnya blog ini. Pertama, menjadikan pendidikan sebagai pondasi kemajuan bangsa. Karena masyarakat terdidik pasti akan tercerahkan, tercerdaskan, dan mandiri. Sehingga kemajuan bangsa Indonesia bukan lagi ditopang oleh utang. Tapi kemandirian.

Kedua, menjadikan pelajar sebagai motor penggerak kemajuan. Karena di tangan pelajarlah harapan bangsa ini tercurah. Belajar dari pengalaman masa lalu. Pelajar yang sehari-harinya mengasup berbagai ilmu dan pengetahuan akan membentuk karakter idealis dalam diri mereka. Sehingga, kemiskinan dan kesengsaraan bangsa akan memanggil mereka untuk ikut berjuang. Lihatlah bagaimana Sarikat Dagang Islam dan Budi Utomo yang merupakan inisiasi dari para pemuda memperjuangkan bangsanya.

Ketiga, membentuk karakter kreatif-kritis dalam diri setiap pelajar sebagai upaya pengembangan dan pemantasan diri menuju manusia bermanfaat yang sebenarnya. Kreatif merupakan kunci dari setiap pelajar agar mampu menciptakan solusi bagi berbagai masalah di bangsa ini. Selain kreatif, pelajar juga memerlukan karakter kritis. Agar mereka tidak puas hanya dengan sedikit kreativitas. Tetapi terus berusaha menuju cita-cita kesempurnaan: Manusia Bermanfaat yang Sebenarnya.

Tags