Latest News

Showing posts with label Fenomena pendidikan. Show all posts
Showing posts with label Fenomena pendidikan. Show all posts

Sunday, 14 February 2010

Alia Sabur, Profesor Termuda di Dunia

Alia Sabur masih muda, masih 19 tahun. Namun namanya menghentak kalangan akademisi setelah dinobatkan sebagai profesor termuda oleh Guinness World Record.Dia sekarang menjadi profesor di Konkuk University Korea Selatan. Lahir pada 22 Februari 1989, Alia menjalani masa studinya dengan waktu amat singkat. Dari kelas IV SD, gadis ini langsung melompat ke universitas, dan lulus BA dengan predikat sum cum laude dari Universitas Stony Brook di New York ketika usianya baru 14 tahun.
Ia melanjutkan pendidikan di Universitas Drexel. Di universitas itu dia mendapatkan gelar master of science dan PhD. Tiga hari menjelang ulang tahun ke-19 Februari lalu, dia resmi menjadi dosen di Universitas Konkuk, Seoul, Korea Selatan. Buku Rekor Dunia Guinness menobatkannya sebagai guru besar termuda dalam sejarah. Dia menumbangkan rekor sebelumnya yang dicatat oleh Colin MacLaurin, mahasiswa Isaac Newton, pada tahun 1717.
Masa depan cemerlang terbentang luas di hadapan remaja Northport, New York itu. Tapi dia memilih mengajar. ?Saya sangat senang mengajar. Karena di bidang itulah kita bisa membuat perbedaan. Dengan mengajar, kita tidak cuma menunjukkan yang bisa kita lakukan, tapi juga memampukan orang lain untuk membuat perbedaan,? katanya

Alia tidak cuma cemerlang di bidang akademis. Ia sudah tampil memainkan klarinet bersama Rockland Symphony Orchestra pada usia 11. Di bidang musik ini ia sudah mendapat berbagai penghargaan. Seni bela diri juga dikuasainya dengan menyandang sabuk hitam Tae Kwon Do.

Sumber  

Tuesday, 18 September 2007

Experientalism learning versus verbalism learning

Berbicara mengenai perkuliahan jelas bagi sebagian mahasiswa sangat membosankan kalau didalamnya tanpa didasari target yang jelas dan kegiatan pendukung yang bisa membuatnya sebuah perkualiahan sebagai fun learning.

Konsepsi lecture fun learning ini mungkin terdengar lain bagi mahasiswa dengan mengurangi paradigma verbalisme semata hanya menghapal bukan memahami, membaca tanpa menganalisa dan mempraktekan tanpa mengambil nilai. Pola belajar yang menekankan pada eksperiental dalam belajar jelas jauh lebih bermakna, apalagi disesuaikan dengan pengalaman factual di lingkungannya kemudian diasah dengan aktifitas organisasi.

Mahasiswa komputer terasa lain nilainya manakala teori dasar perkuliahan bisa disesuaikan dengan banyak berkecimpung dalam bisnis pemerograman ataupun membuka biro jasa pengetikan perakitan komputer. Bukan nanti saja kalau sudah beres kuliah, tapi tentu saja belajar eksperiental inilah hanya dilakukan oleh beberapa mahasiswa. Dan ada kecenderungan mereka kuliah sambil bekerja dan selebihnya mereka kuliah sekedar menyerap teori tanpa mengaplikasikan langsung. sehingga ketika selesai kuliah mereka kebingungan dengan langkah hidup mereka, kompetensi mereka terlalu teoritikal bahkan banyak yang beljaar otodidak malah jauh lebih kompeten dibandingkan mereka yang secara akademis mendalaminya.

Belajar eksperiental inilah yang mendorong adanya program PKL yang memberikan pengalaman kerja dan pengalaman berkomunikasi dengan manusia. Jadilah mahasiswa yang berfikir kedepan dalam menghadapi ketatnya persaingan dunia kerja dengan terus meningkatkan pengalaman kerja dengan dukungan teori ternyata belum cukup.
Trend sekolah kejuruan

Lagi soal pendidikan yang tidak pernah habis dan semua sekolah berlomba-lomba menjaring siswa sebanyak mungkin tanpa tahu kemampuan lulusan kelak dan kompetensi apa yang didapat seandainya memaksakan harus masuk sekolah menengah atas tanpa persiapan kuliah. Sementara penganguran dari tahun ketahun semakin meningkat deras sehingga dapat diketahui ketimpangan dengan peluang kerja yang semakin menipis.

Jelas problem sosial dimanapun negara berkembang adalah masalah pengangguran. Solusi pemerintah sebenarnya dengan melihat salahnya persepsi tentang SMA tanpa mempertimbangkan setelah lulus bisa lanjut kuliah tidak, sementara untuk bekerja lulusan ini nanggung karena mereka tidak memiliki kompetensi apapun.

Sisi lain kita ketahui pemerintah mulai berpaling pada sekolah kejuruan yang lebih prospektif menanggulang minimnya kompetesi tingkat sekolah menengah, sehingga penganguran bisa sedikit terbantu saat melahirkan lulusan yang kompeten dibidangnya. belum mengetahui sekolah kejuruan dengan kompetensi jelas tanpa harus berkecimpung dengan kekuatan hegemoni pemerintah....
Lebih mahal sekolah daripada makan

Sekolah sama dengan makan sama pentingnya tapi terkadang nilai sekolah bagi masyarakat terasa hilang ketika berubah menjadi sebuah bencana, makan karena lapar jauh lebih berharga daripada harus sekolah atau lebih baik dikawinkan muda-muda dari pada harus melajutkan ke SMP.
Alasannya sekolah sangat mahal dengan berbagai tek-tek bengek yang jauh lebih mengeluarkan biaya. Biaya masuk yang luar biasa, bisa untuk makan selama enam bulan ditambah lagi dengan ongkos harian, ongkos anak sekolah mahal dan tidak begitu jauh berbeda dengan ongkos orang dewasa, tapi pernah ada ide jemputan anak sekolah gratis dari dompet dhuafa dan entahlah masih ada nggak di jakarta, belum sempat masuk kedaerah-daerah.
jangan kaget banyak anak yang dengan semangat belajar tinggi dia jalan kaki selama 2 jam sampai kesekolah dengan tubuh basah kuyup dan anak itu bisa sukses sebagai seorang akademisi karena keuletan dalam belajar. Artinya banyak teman yang sekampungnya yang berasal dari keluarga mampu tapi sayang temannya tak begitu berminat belajar karena beban yang berat sekali atau masih banyak anak yang putus sekolah bukan karena otaknya bebal tapi lagi terhimpit biaya sekolah yang tidak terjangkau, sering dipulangkan gara-gara dua bulan delum bayar SPP dan orang tuanya pasrah, lalu dimana program BOS yang digemborkan itu yang diberikan sama terhadap siswa yang secara ekonomi mampu. Bisa jadi kurangnya seleksi para penerima BOS yang seharusnya anak yang tidak mampu, bagi kita perlu adanya kepedulian dan tertarik untuk ikut memikirkan pendidikan masa depan.
Pendidikan proses yang hilang

Menanggapi sistem UAN yang telah melahirkan beberapa kontroversial karena sistem ini tidak memperhatikan proses pendidikan dimana pendidikan bukan sekedar penanaman nilai kognitif semata tapi didalamnya juga perbaikan sikap (apektif) dan keterampilan siswa didik (psikomotor).

Sistem ini juga akan melahirkan politisasi pendidikan dikalangan birokrasi pemerintahan dengan dalih prestise keberhasilan sebuah pemerintahan yang dibebankan pada strutur vertikal sampai pada guru yang harus membuang jauh-jauh idealisme dan hati nuraninya untuk meloloskan agar siswanya lulus. Jelas sebuah dilema satu sisi menyangkut hati nurani dan sisi lain masa depan siswa serta beban psikologis siswa dan tidak pernah memperhatikan bagaimana mungkin proses pendidikan tidak diperhatikan hanya sebatas nilai.

Jelas yang harus diperbaiki adalah 1) Perbaikan kultur ketidak jujuran akan hati nurani 2) Memperhatikan proses dalam pendidikan, 3). Berilah independensi sekolah dari intervensi diknas dalam penentuan kelulusan sehingga akan melahirkan kemandirian sekolah.4). Kalau seandainya masih memperhatikan perbaiki kualitas sistem paket yang materinya disesuaikan dengan jurusan bukan dengan mencampuradukan antara SMA dengan sekolah kejuruan, sungguh lucu siswa SMK harus diuji materi SMA seperti sosiologi-antropologi yang tidak pernah dipelajarinya.

Ini menunjukan pemerintah tidak begitu siap dengan sistem paket ini selain legalitas pengakuan ijazah ini seandainya lululusan paket ini ingin bekerja dan kuliah, sehingga bisa sederajat dengan lulusan normal.
Quovadis pendidikan kita?

Membahas pendidikan tidak pernah bosan selalu dihadapkan perubahan sistem. bahasa si Aa ganti mentri ganti sistem kurikulum. Sok hati nurani kita bagaimana dengan sistem sekarang dimana pentargetan kelulusan mendorong pengebiarian hati nurani,kata rekan sejawat hanya pendidik idealis saja yang begitu.
Coba pikirkan lagi betapa mahalnya pendidikan dikita sehingga bagi rakyat kecil dalam menghadapi tahun ajaran besok serasa sesak sehingga butuh dua kali untuk menyekolahkan dengan bergilir antara adiknya dan kakaknya, lalu kemana para aghniya yang kelebihan harta dan bagaimana dengan janji pemerintah yang sebatas BOS dan BKM yang tidak seberapa bisa membantu rakyat kecil. Pendidikan berat dan memberatkan tapi untungnya masih punya hati dan kebesaran jiwa sehingga rakyat kecil bisa terus menyongsong hidup yang serba berat tapi harus kita hadapi dengan modal keikhlasan terutama guru-guru hebat yang sama memikirkan bisa nggak anaknya sekolah seperti dirinya, bisakah mereka hidup jauh lebih baik, bisakah mendapatkan pendidikan gratis dan masih banyak pertanyaan yang entah pada siapa dia tujukan, karena tidak tahu dan tidak bisa menjawabnya, termasuk dirinya dan orang-orang yang sedang berhadapan dengan tahun ajaran baru sekarang ini.

Mengamati bola lieur, apalagi menghadapi tahun ajaran baru?

Kalau ngomong persiapan sekolah, jauh lebih lieur kalau punya anak yang pas masuk semunya pada bulan juli besok. Banyak biaya keluar, sok siapkan baju, tas barunya selain uang masuk plus uang bangunan, plus untuk anak paling gede harus siap biaya SPMB. biasanya tabungan mang-tahun-tahun habis dengan hujan sehari, kalau tidak dikeluarkan bagaimana pendidikan itu penting, Lo! harus punya keinginan pendidikan anak kita kalau bisa melebihi bapaknya, bukankah kehidupan dari generasi harus lebih baik dari generasi sebelumnya. warisan yang paling baik itu adalah ilmu yang bermanfaat. Soalnya bukan itu nya, itu pulus-nya, apalagi hidup di Bekasi terasa sesak kaya si Aa yang guru honorer harus kerja keras ngajar sana ngajar sini, bisnis sana bisnis sini. Syukurnya orang kecil kayak si Aa yang berusaha dan menerima dan percaya lobang rizki ada dimana-mana, tinggal kita bagimana meningkatkan usahanya.
Mahasiswa teksbook
Mahasiswa textbook sebutan mahasiswa yang selalu terfokus pada buku teks dan fotokopian yang diberikan dosennya tanpa adanya improvisasi pengembangan materi perkuliahan, jelas ini hampir kita dapati dikalangan mahasiswa kita yang malas memperluas isi kajian perkuliahan dengan berbagai alasan kurangnya sumber literatur sehingga mereka hanya mengandalkan catatan resmi dari sang dosen dan budaya tekbook itu hal yang sudah biasa dalam sistem pendidikan kita yang selalu berorinetasi hapalan bukan pemahaman. banyak bukti kenapa pembelajaran bahasa di kita kurang begitu berhasil, apa yang kurang dengan pembelajaran bahasa inggeris yang diajarkan sejak TK sampai perguruan tinggi dan hasilnya mereka secara gramatikal menguasai tapi dilihat dari komunikasi masih banyak yang belum begitu menguasai. Kuncinya budaya verbalisme dalam sistem pendidikan kita yang membentuk sampai kita menjadi sarjana sekalipun. sehingga wajar banyak sarjana kita yang secara keilmuan baik tapi kemandiriannya sebagai intelektual dirasa masih jauh. Mereka masih saja menginginkan dunia priyayi yang duduk diatas kursi dan mendapat gaji rutin baik bekerja maupun tidak. Jiwa kemandiriannya sebagai intelektual untuk menciptakan dunia kerja dan wirausaha hanya dimiliki oleh orang luar.
Intinya perlu adanya perubahan paradigma tentang cara pembelajaran kita, hilangkan budaya mendikte, mencatat dan budaya meng-copy, sesering mungkin bedah kasus yang riel yang ada dalam kehidupan nyata, selain penugasan langsung untuk belajar mengamati dan mengadakan riset sehingga terbiasa dengan problem solving akan mematangkan pemahaman para mahasiswa dalam beradptasi antara teori dengan aplikasi di masyarakat.

Dari orientasi openbook ke open mind

Open book selalu diminta saat ujian dengan dalih tingkat kesulitan soal perkulihan menyeret mahasiswa semakin larut dalam belajar yang salah kaprah. sehingga orientasi pada buku ini menyebabkan kultur verbalisme semakin kuat tanpa memhami esensi dan nilai dari setiap perkuliahan. sehingga yang dikejar sebatas IPK dan Ijazah sebagai simbol kebanggaan yang dilengkapi gelar akademisi tanpa melihat kompetensi pribadi. Sarjana tapi tidak mencerminkan pribadinya layaknya seorang sarjana. Buktinya sangat jarang kalau hasil tesis kita menarik para peenrbit untuk dijadikan sebuah buku, hal itu menurut rekan-rekan yang mengamati hasil skripsi dan tesis mahasiswa Indonesia yang rajin memindahkan karya skripsi orang lain tanpa mengembangkan sendiri apalagi berinovasi langsung yang disesuaikan dengan permasalahan krusial yang ada dimasyarakat.
Jelas untuk mewariskan generasi kompeten sangat jauh kalau kondisi mahasiswa kita tidak berubah orientasinya untuk merubah orientasi teks ke orientasi open mind yang meningkatkan kreatiftas siswa dan penguatan analisa siswa terhadap berbagai fenomena hidup yang nantinya sangat bermanfaat untuk meningkatkan kualitas peribadinya dalam mengaplikasikan ilmu semasa kuliah dengan realita masyarakat. Bukan hal yang sulit kalau perubahan-perubahan dalam konsep belajar mengikuti kultur open mind yang terlihat jauh lebih berhasil menciptakan mahasiswa unggul dibeberapa negara di dunia. Gelar bukan segalanya, tapi sangat penting untuk melegalkan kapasitas anda sebagai generasi bangsa akademisi.

Sekilas tentang Unschooled management Gede Prama

sebuah karya anti kemapanan manajemen Gede Prama dalam pengantarnya yang luar biasa :
"....selamat datang dirumah intelektul saya yang ketujuh sebuah rumah yang saya sebut dengan crazy home disebut demikian karena inilah kumpulan ide-ide ini dimajalah warta ekonomi, banyak komentar yang telah lahir. sebagaimana biasa ada yang memuji ada juga yang memaki...."
Gede Prama dengan anti kemapanan manajemen perlu dicermati sebagai alternatif sebuah wacana yang diambil dari keseharian yang menurut beliau hidup itu ada uncertain, chaos bahkan mendekati crazy dengan pemparan judul yang dramatis seperti. kita lihat komentar Gede Prama :"....komputer itu tolol. satelit itu biadab. rasionalitas ala descartes itu menipu. posmedernism ala derrida itu jangkrik. tidak ada yang menyebut dia tidak lulus. tidak ada ijazah yang ia pertaruhkan. ia hanya mengenal mencoba, mencoba dan mencoba. Menurut kita sangat bombastis tapi kita lihat resumenya : Kalau belajar dimanapun selalu ada gunanya sejauh tetap sadar, bahwa sekolah hanyalah a window of reflection. sekolah baru disebut berhasil, bila mampu menggugah orang untuk senantiasa belajar dan mencari.fokusnya terletak pada membangkitkan motivasi agar orang mau belajar atau ilmu lebih ditempatkan sebagai pertanyaan terbuka ketimbang jawaban yang tertutup. bahkan tokoh manajemen yang dikagumi karena pembelotannya seperti kenichi ohmae adalah doktor bidang nuklir yang membelot ke manajemen, gareth morgan yang background politik berkhianat masuk disiplin manajemen. dalam uraian lain mengenai roti busuk manajemen, semua orang lebih menyukai roti yang presh from the oven. tidak ada yang mau memakan roti busuk hasil simpanan berthaunlalu. mirip dengan makan roti, mananjemen yng lahir dari kumpulan data masa lalu tidak membuat kepala manusia menjadi fresh. tidak tertutup kemungkinan, malah membuat kepala kita menjadi roti busuk yang tidak berguna. lihat lagi komentar manajemen membuat manusia jadi impoten: "...mendengar tanpa mengetahui, bertanya tanpa dari posisi tidak mengetahui. (kutipan: Motivasi atau mati, Gede Prama)

Budaya plagiat sebagai bentuk Kemiskinan intelektual

"Seandainya kemiskinan berwujud manusia, niscaya aku akan membunuhnya"
'Ali Bin Abi Thalib RA.

Kemiskinan istilah yang paling dikenal oleh siapapun, tapi kita lebih kenal kemiskinan karena tidak memiliki harta benda. Justru kemiskinan fenomenal justru kemiskinan intelektual. sebagimana diungkapkan Dr Dawam Raharjo bahwa maslah kemiskinan dan kepapaan tidak lagi menjadi fokus dalam dialog dikalangan cendikiawan. faktor ini antara lain karena masalah ini sudah terlalu lama dibicarakan secara berulang-ulang sehingga kadang-kadang membosankan (Kompas, 21/10/92)
Kemiskinan yang kita lihat terkadang secara majazi bukan hakiki bahkan orang kaya tapi miskin hati seperti tercabut dari akar hatinya seperti patologi jiwa seperti perasaan dihantui ketidakpastian tanpa tujuan (Skizofrenia), berperasangka buruk (paranoia), rasa takut (neurotik) dan lebih parah lagi prilaku dimana mereka melakukan sesuatu, logika dan akal sehatnya ditinggalkan (manik-defresif)Dengan ciri-ciri yang kentara seperti tidak inovatif, tidak kreatif dan tidak peduli dengan lingkungan, hilangnya rasa malu. Tahun 90-an pernah terungkap tuduhan Ismet Fanani yang menuduh disertasi Dr yahya Muhaimin yang berjudul Bisnis dan politik di indonesia" menduplikasi karya ilmuwan Australia Dr richard Robinson yang berjudul "Capitalism and the bureaucratic state in Indonesia" (Kompas, 22 November 1992)
Tentu saja mengenai kemiskinan lainnya yan tidak dilihat dari harta bendanya saja. lepas dari membosankan tidaknya budaya plagiat diklangan akademisi hal yang biasa dan tentu saja ada beberapa ketentuan dasar yang harus dipenuhi bagaimana cara mengutip dari hasil karya orang lain dan seberapa banyak dikatakan plagiat kalau kita mengutif langsung.

Tags